Pelajar SMAK Giovanni Kupang Ciptakan Sistem Deteksi Sampah Otomatis Berbasis AI

SMAK Giovanni Kupang berhasil meraih Juara I dalam ajang Filosi Robotic Competition tingkat SMA/SMK.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – SMA Katolik Giovanni Kupang berhasil meraih Juara I dalam ajang Filosi Robotic Competition 2026 tingkat SMA/SMK serta Expo Perguruan Tinggi se-Nusa Tenggara Timur yang berlangsung di Aula BPVP Kementerian Ketenagakerjaan, Jumat (22/5/2026).

Prestasi tersebut diraih melalui inovasi bertajuk EA (Automated Eye Wastebin), yakni sistem tempat sampah otomatis berbasis teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Salah satu anggota tim SMAK Giovanni Kupang, Daren, mengatakan keikutsertaan mereka dalam kompetisi robotika didorong oleh semangat untuk mempelajari hal baru di bidang teknologi dan robotik.

Menurut Daren, tim pengembang sebelumnya belum memiliki pengalaman khusus di bidang robotika maupun teknologi informasi. Namun, proses persiapan dilakukan secara bertahap bersama guru pendamping melalui pembelajaran dan pengembangan sistem secara mandiri.

“Awalnya kami belum punya pengalaman di bidang robotika dan IT, tetapi kami belajar bersama guru pendamping hingga akhirnya sistem ini bisa dikembangkan,” ujarnya.

EA dirancang sebagai tempat sampah pintar yang mampu mendeteksi dan mengklasifikasikan jenis sampah secara otomatis, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sistem tersebut dilengkapi kamera dan perangkat lunak yang mampu mengenali kesalahan pembuangan sampah.

Ketika terjadi pelanggaran, sistem secara otomatis mengambil gambar pelaku, mengunggah data ke server, serta mengaktifkan alarm edukatif hingga sampah dipindahkan ke tempat yang benar.

Selain itu, teknologi tersebut juga memiliki sensor pendeteksi kapasitas sampah. Saat tempat sampah penuh, sistem akan mengirimkan notifikasi kepada petugas pengangkut sampah berdasarkan titik lokasi yang telah terdata.

Fitur tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi pengangkutan sampah sekaligus mengurangi biaya operasional pengelolaan lingkungan.

Dalam proses pengembangan prototipe, tim memanfaatkan perangkat sederhana untuk menekan biaya produksi. Seluruh sistem, mulai dari deteksi sampah, sistem lokasi, hingga alarm suara, diuji secara terpisah sebelum digabungkan menjadi satu kesatuan teknologi.

Keterbatasan kapasitas perangkat komputer membuat beberapa sistem dijalankan secara terpisah agar tetap berfungsi optimal selama demonstrasi kompetisi.

Daren juga menyampaikan apresiasi kepada pihak sekolah, guru pendamping, mentor, teman-teman sekolah, serta orang tua yang memberikan dukungan selama proses persiapan lomba.

“Dukungan dari sekolah, guru pendamping, mentor, teman-teman, dan orang tua sangat membantu kami hingga bisa meraih juara pertama,” ujarnya.

Dukungan sekolah dan pendampingan intensif disebut menjadi faktor penting dalam keberhasilan tim meraih juara pertama pada kompetisi robotika terbesar di Nusa Tenggara Timur tersebut.