Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Koordinator Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Johnny Eduard Rihi, mewakili Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest S. Ludji, secara resmi membuka kegiatan Launching dan Pelatihan Guru Program GURUBOT pada Sabtu (23/5/2026) di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Markoding tersebut diikuti 111 guru dari 22 sekolah tingkat SD di Kota Kupang.
Program GURUBOT merupakan tutor berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu pembelajaran literasi dan numerasi secara luring atau tanpa internet.
Dalam sambutannya, Johnny Eduard Rihi menegaskan bahwa pendidikan saat ini tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui ruang digital dan media sosial yang membentuk cara berpikir, berbicara, dan berinteraksi masyarakat modern.
“Media sosial bukan tempat untuk saling membully, tetapi harus menjadi ruang pendidikan yang mengedepankan etika, budaya, dan literasi digital,” ujarnya.
Ia mengatakan, tantangan literasi dan numerasi di Indonesia masih cukup besar. Berdasarkan data Program for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat bawah dalam kemampuan literasi dan numerasi.
Selain itu, keterbatasan akses fasilitas digital dan rendahnya kapasitas dasar pembelajaran masih menjadi kendala di berbagai daerah.
Johnny juga mengapresiasi dedikasi para guru di Kota Kupang yang tetap berupaya mendukung proses belajar mengajar di tengah keterbatasan sarana pendidikan.
Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, terus berkomitmen meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan literasi, numerasi, karakter, dan survei lingkungan belajar. Salah satunya melalui kolaborasi dengan berbagai mitra pendidikan seperti Markoding.
“Ia berharap program ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini saja, tetapi dapat berjalan secara berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu, Co-Founder Skilvul sekaligus Program Director GURUBOT, Amanda Simanjuntak, menjelaskan bahwa GURUBOT lahir dari keresahannya melihat masih banyak anak yang belum lancar membaca dan berhitung, termasuk di wilayah perkotaan.
Amanda mengisahkan pengalamannya saat menjadi relawan pengajar di kawasan Cilincing, Jakarta Utara, dan di wilayah Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Ia menemukan masih banyak siswa kelas tinggi sekolah dasar yang belum mampu membaca dan berhitung dasar dengan baik.
“Bahkan ada sekolah yang gurunya hanya datang dua kali dalam sebulan. Dari situ kami terinspirasi membuat GURUBOT,” ujarnya.
Menurut Amanda, GURUBOT merupakan aplikasi berbasis AI yang dirancang untuk membantu pembelajaran literasi dan numerasi dengan spesifikasi ringan sehingga dapat digunakan di ponsel dengan RAM minimal 3 GB, Chromebook, laptop, maupun tablet.
Ia menambahkan, mulai Juli 2026 aplikasi tersebut ditargetkan dapat digunakan secara offline tanpa koneksi internet sehingga lebih mudah diakses sekolah-sekolah di daerah dengan keterbatasan jaringan.
Amanda menegaskan bahwa GURUBOT tidak dibuat untuk menggantikan peran guru, melainkan sebagai asisten pembelajaran yang membantu proses pendidikan di kelas.
“Guru tetap menjadi pengendali utama dalam pembelajaran. Teknologi ini hadir untuk membantu,” katanya.
Ia juga mengajak para guru di Kota Kupang untuk aktif memberikan kritik dan masukan terhadap pengembangan aplikasi tersebut agar dapat terus disempurnakan.
Melalui program ini, GURUBOT diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia sekaligus memperbaiki capaian pendidikan nasional di masa depan.














