Dari Masa Sulit Menuju Karya, Aldi Ungkap Lahirnya Buku Sindikat Lara

Puisi sebagai ruang pemulihan.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar talkshow Bicara Buku Buku Bicara (B4) yang mengangkat buku puisi Sindikat Lara karya Ricardus Asbanu atau yang akrab disapa Aldi.

Penulis yang juga merupakan alumni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang itu hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang berlangsung di Studio Radio TIRILOLOK, Minggu (5/7/2026).

Dalam dialog tersebut, Aldi mengisahkan perjalanan yang membawanya hingga menerbitkan buku Sindikat Lara.

Ketertarikannya pada dunia sastra, khususnya puisi dan cerpen, tumbuh sejak masih berkuliah ketika mulai memikirkan masa depan jika tidak menjadi guru.

Berbagai karya Chairil Anwar, W.S. Rendra, dan Gerson Poyk menjadi sumber inspirasi yang semakin menguatkan keinginannya untuk berkarya dan memberi manfaat melalui tulisan.

Aldi mengatakan keputusan membukukan kumpulan puisinya lahir dari berbagai diskusi bersama para senior. Salah satu pesan yang paling membekas baginya ialah kutipan Pramoedya Ananta Toer tentang pentingnya menulis sebagai upaya meninggalkan jejak peradaban.

Pesan tersebut mendorongnya mendokumentasikan karya-karya yang selama ini hanya tersimpan di telepon genggam agar tidak hilang atau rusak.

Ia menuturkan proses kreatifnya juga ditempa melalui ruang diskusi di Lapak Sunset PBSI. Berbagai masukan dari rekan dan senior membangun keberaniannya untuk memublikasikan tulisan sekaligus membentuk kesiapan menerima kritik sebagai bagian dari proses berkarya.

Menurut Aldi, titik balik dalam hidupnya terjadi saat memasuki semester empat ketika cedera memaksanya menghentikan berbagai aktivitas dan menjalani masa pemulihan cukup lama. Kondisi tersebut justru menyadarkannya bahwa berdiam diri hanya akan mematikan semangat. Karena itu, ia memilih menulis sebagai cara meninggalkan jejak sekaligus mengubah pengalaman pahit menjadi karya.

“Bagi saya, menulis bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi terapi jiwa. Semua kegelisahan, kesedihan, dan tekanan emosional saya tuangkan ke dalam puisi. Setelah menulis, saya merasa lebih lega,” ujar Aldi.

Ia menambahkan minatnya terhadap dunia sastra telah tumbuh sejak awal kuliah melalui kebiasaan membaca buku dan menikmati berbagai tulisan di media sosial.

Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi dorongan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya melalui puisi.

Bagi Aldi, puisi menjadi ruang refleksi sekaligus tempat menyembuhkan luka batin.

Seluruh kegelisahan yang sulit disampaikan secara langsung akhirnya menemukan bentuk dalam setiap larik puisi hingga melahirkan Sindikat Lara, sebagai bukti bahwa masa-masa sulit dapat melahirkan karya yang bermakna.