Uskup Agung Kupang Ajak Religius Tetap Setia di Tengah Berbagai Tantangan

Aku Bersyukur Kepada-Mu Tuhan, Karena Keajaiban-Mu Kepadaku.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, memimpin Misa Syukur Perayaan 25 Tahun Hidup Membiara lima Suster Karmelit Misionaris (CM) di Gereja Santa Maria Assumpta Kupang, Sabtu (4/7/2026).

Perayaan yang mengusung tema “Aku Bersyukur Kepada-Mu Tuhan, Karena Keajaiban-Mu Kepadaku” (Mazmur 139:14) tersebut menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panggilan hidup membiara lima suster, yakni Sr. Emiliana Bupu, CM; Sr. Monika Meo, CM; Sr. Imelda Marselina Woli, CM; Sr. Aemilia Tea, CM; dan Sr. Gina Estoya, CM.

Dalam homilinya, Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan bahwa Allah tidak sekadar memperbaiki apa yang rusak, tetapi membaharui manusia dengan menciptakan kemampuan baru sehingga rahmat-Nya dapat diterima secara utuh.

“Allah tidak sekadar memperbaiki yang rusak, tetapi menciptakan kehidupan baru yang jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan manusia,” ungkapnya.

Menurut Uskup Agung Kupang, perayaan pesta perak hidup membiara bukan semata-mata mengenang lamanya seseorang bertahan dalam panggilan religius, melainkan merayakan kesetiaan Allah yang terus memanggil, menopang, mengampuni, membentuk, dan memperbaharui umat-Nya.

“Jika kita hanya menghitung 25 tahun berdasarkan lamanya waktu, maka kita akan kehilangan inti dari perayaan ini.

Pesta perak bukan terutama tentang berapa lama seseorang bertahan dalam panggilan, tetapi tentang Allah yang tetap setia menyertai perjalanan hidup mereka,” katanya.

Ia mengakui bahwa selama 25 tahun perjalanan hidup membiara, setiap religius pasti mengalami berbagai dinamika, mulai dari sukacita, air mata, keberhasilan pelayanan hingga kegagalan yang hanya diketahui oleh Tuhan.

Menurut Uskup Agung Kupang, ada pula saat-saat ketika doa terasa begitu dekat dengan Tuhan, namun tidak sedikit pula masa-masa kegelapan rohani ketika Tuhan seolah diam. Meski demikian, di atas semua pengalaman tersebut terdapat satu kenyataan yang tidak pernah berubah, yakni kesetiaan Allah.

“Sesudah 25 tahun, setiap suster tentu menyadari bahwa dirinya bukanlah bangunan yang sempurna. Masih ada kelemahan, kekurangan, luka, dan harapan yang belum seluruhnya terwujud. Namun justru di sanalah rahmat Allah bekerja paling nyata,” ujarnya.

Ia menambahkan, Allah mencintai manusia bukan karena telah sempurna, melainkan sebagaimana adanya, kemudian perlahan-lahan membentuk setiap pribadi agar semakin serupa dengan Kristus.

Mengakhiri homilinya, Uskup Agung menegaskan bahwa ketika Allah berkarya, Ia menghadirkan kelimpahan rahmat yang melampaui segala harapan manusia.

Sementara itu, Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, salah seorang yubilaris, Sr. Imelda Marselina Woli, CM, mengatakan bahwa perayaan 25 tahun hidup membiara bukanlah akhir dari perjalanan panggilan, melainkan awal untuk semakin setia menjalani hidup religius.

“Perayaan 25 tahun hidup membiara ini menjadi awal baru bagi kami sebagai kaum religius untuk semakin tekun dan setia dalam panggilan,” katanya.

Ia mengakui bahwa kehidupan membiara saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk berkurangnya jumlah calon biarawan dan biarawati. Menurutnya, tidak sedikit yang mengalami kesulitan maupun pencobaan dalam proses pembinaan sehingga memilih meninggalkan panggilan hidup religius.

Meski demikian, Sr. Imelda bersyukur karena hingga kini ia tetap diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk bertahan dan mencapai 25 tahun hidup membiara.

“Saya bersyukur karena sampai saat ini Tuhan tetap menyertai saya sehingga dapat mencapai 25 tahun hidup membiara. Semoga kami tetap setia melayani Gereja dan umat sesuai panggilan yang telah dipercayakan Tuhan,” tutupnya.