Radio TIRILOLOK: Suara Kami Belum Mati

"We are The VOICE of The VOICELESS"

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan revolusioner di era modern. Munculnya berbagai media online seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, serta portal berita daring, secara signifikan mempercepat penyebaran informasi.

Kemajuan ini menandai era baru dalam teknologi informasi dan komunikasi, di mana akses informasi menjadi lebih cepat dan mudah dijangkau. Selain itu, media-media online juga menawarkan berbagai keunggulan seperti layanan yang lebih personal, biaya akses yang relatif murah, serta tampilan audio-visual yang menarik. Hal ini mendorong minat masyarakat untuk mengonsumsi informasi melalui berbagai platform tersebut.

Di tengah derasnya arus media online, eksistensi media konvensional seperti radio mulai dipertanyakan. Kehadiran berbagai media baru ini secara tidak langsung mengancam kelangsungan hidup media tradisional. Beberapa radio bahkan telah berhenti beroperasi dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya yang paling terkenal adalah BBC Indonesia, yang resmi berhenti mengudara pada 30 Desember 2022, setelah 73 tahun mengudara (Heyder Affan, BBC NEWS INDONESIA, 2022).

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah radio masih relevan di era digital, terutama dengan dominasi media online?

Meskipun beberapa stasiun radio telah berhenti beroperasi, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada radio yang tetap eksis di Indonesia. Salah satu contohnya adalah Radio TIRILOLOK di Kupang, yang telah mengudara selama lebih dari 36 tahun. Dalam esai ini, penulis akan menguraikan gambaran umum tentang Radio TIRILOLOK serta alasan mendasar yang membuat radio ini masih bertahan dan tetap hidup hingga saat ini.

Radio TIRILOLOK

Radio TIRILOLOK SWARA VERBUM merupakan salah satu stasiun radio Katolik yang terletak di Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Radio ini lebih familiar disebut sebagai Radio Verbum atau Radio TIRILOLOK. Direktur Radio TIRILOLOK, P. Dismas Longginus Mauk, SVD, menjelaskan bahwa nama TIRILOLOK diambil dari nama burung khas Pulau Timor yang berkicau merdu di pagi hari, melambangkan ketenangan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan alam.

Stasiun radio TIRILOLOK didirikan pada 16 Desember 1987 atas prakarsa dari Pater Piet Manehat, SVD. Pada masa awal berdirinya, Radio TIRILOLOK mengudara pada frekuensi AM 792 KHz dengan panjang gelombang 378,79 meter band. Kemudian seiring dengan perkembangan teknologi, Radio TIRILOLOK berubah status dari frekuensi AM ke frekuensi FM 100,9 MHz pada 25 November 1995.

Selanjutnya pada Mei 2004 hingga saat ini Radio TIRILOLOK mengudara pada frekuensi FM 101,1 MHZ, dengan radius 75-100 km. Hal ini memungkinkan para pendengar bisa menikmati siaran Radio TIRILOLOK dari berbagai tempat di kawasan NTT (TIRILOLOK.co.id).

Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyiar Senior Radio TIRILOLOK (Cornelis Kun Kiik), diketahui bahwa inspirasi awal didirikanya stasiun radio ini lahir dari keinginan P. Piet Manehat, SVD untuk mendirikan sebuah media yang dapat menjadi corong pewartaan nilai-nilai Kristiani. Pada masa awal berdirinya, Radio TIRILOLOK lebih banyak menyiarkan program-program rohani.

Namun, seiring berjalannya waktu Radio TIRILOLOK membuka program-program lain seperti program hiburan, pendidikan, dan berita. Meskipun demikian, semua program tersebut tetap didasari oleh semangat misi pewartaan.

Ada tiga misi utama dari Radio TIRILOLOK yakni pengembangan pembangunan nilai kemanusiaan, pengembangan peningkatan bakat dan sumber daya manusia, dan pewartaan nilai Kristiani. Sebagai salah satu media yang bergerak dalam bidang komunikasi, Radio TIRILOLOK hadir sebagai media elektronik yang berfungsi sebagai media informasi, sosial, dan hiburan (TIRILOLOK.co.id).

Pengalaman Jatuh dan Bangun

Pengalaman gagal dan sukses, jatuh dan bangun, serta susah dan senang adalah bagian yang tak terhindarkan dalam sejarah perjalanan sebuah media. Selama kurang lebih 36 tahun mengudara, Radio TIRILOLOK juga menghadapi berbagai situasi seperti itu. Kesulitan finansial, yang disebabkan oleh kurangnya sponsor, iklan, serta berkurangnya jumlah pendengar, pernah menjadi tantangan bagi Radio TIRILOLOK. Selain itu, protes terkait kesalahan informasi juga pernah dialami oleh stasiun radio ini.

Terlepas dari berbagai situasi sulit, Radio TIRILOOK sebagai media yang bergerak di bidang komunikasi telah meraih penghargaan-penghargaan bergengsi. Beberapa diantaranya adalah Penghargaan Gubernur NTT tahun 2008 sebagai “Media yang Berjasa dan Berprestasi di Bidang Pemerintahan, Pembangunan, dan Pelayanan kepada Masyarakat, Khususnya dalam Bidang Informasi.

” Pada tahun 2014, Radio TIRILOLOK kembali meraih penghargaan Gubernur NTT sebagai “Media Independen, Netral, Mandiri, dan Profesional, Berjaringan Terluas, Pembangun Karakter Bangsa, dan Berkelas Dunia.” Selain itu, pada tahun 1995, Radio TIRILOLOK menerima penghargaan dari Pengurus Pusat Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) sebagai Koordinator Daerah PRSSNI NTT, serta berbagai penghargaan lainnya. Penghargaan-penghargaan ini menjadi simbol kesuksesan yang mewarnai perjalanan panjang Radio TIRILOLOK dan mencerminkan dedikasi serta kualitas yang terus dijaga selama bertahun-tahun.

Mengapa Tetap Hidup?

Fakta bahwa Radio TIRILOLOK masih bertahan hingga saat ini merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Di tengah gempuran media online yang semakin kuat, Radio TIRILOLOK tetap eksis dan konsisten menjalankan misinya sebagai penyebar kebaikan dan kebenaran. Pertanyaannya, mengapa Radio TIRILOLOK masih mampu bertahan? Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendukung keberlangsungan Radio TIRILOLOK hingga saat ini.

Pertama, kekuatan suara kebenaran. Keinginan untuk mendapatkan informasi yang dapat dipercaya menjadi kebutuhan banyak orang di zaman ini. Masyarakat terus mencari media yang mampu memberikan informasi yang kredibel. Dalam konteks ini, Radio TIRILOLOK hadir dan berkomitmen menyajikan informasi yang akurat dan terpercaya.

Sejak awal berdirinya, Radio TIRILOLOK konsisten menyuarakan kebenaran, yang membangkitkan rasa percaya dari para pendengar. Hingga kini, Radio TIRILOLOK masih memiliki banyak pendengar setia.
Kedua, tekad yang kuat untuk terus bersuara. Slogan awal Radio TIRILOLOK adalah, “Berpaculah Bersama Kami Meraih Sukses, Pesan Anda Kami Suarakan, Sejuta Telinga So Pasti Dengar,” Slogan tersebut kemudian diubah menjadi “We are The VOICE of The VOICELESS.”

Dalam hal ini, Radio TIRILOLOK menjadi wadah aspirasi, terutama bagi mereka yang terpinggirkan. Radio ini berkomitmen untuk tetap bersuara, memastikan bahwa suara-suara yang terabaikan tetap terdengar.
Ketiga, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Radio TIRILOLOK tidak menutup mata terhadap kemajuan teknologi dan munculnya media online. Alih-alih melihatnya sebagai ancaman, mereka memanfaatkan media online seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, dan website sebagai alat pendukung misi mereka.

Radio TIRILOLOK beradaptasi dengan membangun pola konvergensi media, meninggalkan yang konvensional dan mengarungi kebaruan dalam pendekatan digitalisasi. Platform-platform ini digunakan untuk mempromosikan program-program siaran dan memperluas jangkauan. Dengan demikian, semakin banyak orang yang mengenal dan mendukung Radio TIRILOLOK.

******

Radio TIRILOLOK membuktikan bahwa media konvensional seperti radio masih memiliki tempat di era digital, asalkan mampu beradaptasi dengan tuntutan konvergensi media dan tetap setia pada misinya. Meskipun tantangan yang dihadapi semakin berat, terutama dengan berkembangnya platform online yang menawarkan informasi cepat dan menarik, Radio TIRILOLOK berhasil bertahan dengan mengedepankan kredibilitas, keberpihakan kepada kaum terpinggirkan, serta keterbukaan terhadap perubahan zaman.
Kekuatan Radio TIRILOLOK terletak pada komitmennya untuk menyuarakan kebenaran dan aspirasi masyarakat kecil.

Hal ini membuatnya tetap eksis dan dipercaya serta didengarkan oleh banyak orang. Perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi tidak dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat eksistensi mereka. Dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital lainnya, Radio TIRILOLOK memperluas jangkauan pendengarnya, tetap relevan, dan bisa bersaing di tengah derasnya arus informasi modern.

Kesuksesan Radio TIRILOLOK untuk tetap bertahan hingga saat ini membuktikan bahwa media konvensional dapat hidup berdampingan dengan media digital, selama mampu menjaga esensi dan misinya. Peleburan yang konvensional dan yang digital dalam wajah konvergensi media adalah suatu kemestian. Di tengah derasnya perubahan, Radio TIRILOLOK menjadi inspirasi bagi media lain untuk tetap bertahan dan berkembang di era yang serba cepat ini. Suara mereka belum mati, dan semangat mereka terus bergema.

“We are The VOICE of The VOICELESS.”