Konteks
Perikop ini secara umum berisi tentang hukuman Allah atas umat manusia dan juga penyelamatan umat pilihan Allah dari hukuman tersebut. Ada dua bagian yang ditampilkan dalam perikop ini. Bagian pertama (Kej. 7: 10-12) berisi kisah tentang datangnya air bah. Bagian kedua (Kej. 7: 13-15) berisi tentang Nuh yang menaati perintah Tuhan, dengan masuk kedalam bahtera bersama keluarganya dan semua binatang yang telah dipilih untuk diselamatkan.[1] Di sini ditunjukan dua sisi yang cukup bertentangan, yakni sisi kemurkaan Allah atas umat manusia dan sisi belas kasih Allah atas umat manusia dan ciptaa-Nya, yakni dengan menyelamatkan umat pilihannya.
Rasul petrus dalam suratnya yang kedua kembali mengangkat dan menyinggung tentang kisah air bah. Ia menulis demikian “dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang fasik” (bdk. 2 Ptr. 2: 5). Di sini jelas bahwa sekalipun Allah murka karena dosa-dosa umat manusia, Dia tetap mengasihi umat manusia, secara khusus umat pilihan-Nya yang senantiasa taat dan setia pada perintah-Nya.
Dalam kebudayaan-kebudayaan yang ada di dunia, dapat ditemukan juga kisah yang mirip dengan peristiwa air bah. Salah satu contohnya adalah kisah tentang Utnapisthim, yakni seorang tokoh dari mitologi Mesopotamia dalam Epos Gigamesh. Dalam Epos itu dikisahkan bahwa Utnapisthim ditugaskan oleh Dewa Ea untuk membangun kapal raksasa bernama pelindung kehidupan. Kapal ini dibangun sebagai persiapan untuk menghadapi banjir bandang yang dapat menghapus seluruh kehidupan yang ada dimuka bumi.[2] Belum ada penjelasan yang pasti tentang keterkaitan dari kedua kisah ini, tetapi yang jelas kedua kisah ini memiliki kemiripan yang sangat besar.
Pemaknaan Simbol
- Air Bah
Dalam perjanjian baru, kisah datangnya air bah kerap dihubungkan dengan kedatangan Anak Manusia. Hal ini nampak secara jelas dalam injil Matius. Penginjil Matius menulis demikian “dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia” (bdk. Mat. 24: 39). Anak Manusia dalam perjanjian baru merujuk pada pribadi Yesus Kristus. Umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah penyelamat dan juga hakim yang adil. Dia akan menghukum semua orang yang berdosa dan akan menyelamatkan orang-orang yang setia pada perintahnya. Dalam hubungannya dengan hal ini, air bah juga datang membinasakan umat manusia yang berdosa, tetapi umat yang taat tidak dibinasakan. Namun ada perbedaan yang sangat jelas antara air bah dan Anak Manusia. Air bah hadir sebagai sesuatu yang pasif tanpa ada kesadaran, sementara Anak manusia yakni Yesus Kristus hadir sebagai pribadi yang aktif, dalam artian Ia bertindak secara sadar dan segala tindakan-Nya didasarkan pada kehendak Bapa yang adalah juga kehendak-Nya (bdk. Yoh. 8: 16).
- Empat Puluh Hari
Term empat puluh hari sebenarnya tidak hanya terdapat dalam kisah tentang air bah. Term ini, dapat ditemukan juga dalam kitab-kitab lain. Salah satunya terdapat dalam injil Lukas. Dalam injil Lukas dikisahkan tentang pencobaan Yesus di padang gurun selama empat puluh hari (bdk. Luk. 4: 2). Waktu empat puluh hari dalam kisah tentang air bah dan juga dalam kisah pencobaan Yesus, dapat dimaknai sebagai waktu pencobaan. Dalam kisah air bah manusia menghadapi situasi alam yang buruk, yakni hujan turun selama empat puluh hari empat puluh malam, yang kemudian menyebabkan munculnya air bah. Kemudian dalam kisah pencobaan di padang gurun, Yesus Kristus dalam kemanusiaanya ditantang dan dicobai oleh iblis ketika Ia berada di padang gurun selama empat puluh hari. Dari kedua kisah tersebut, dapat dikatakan bahwa waktu empat puluh hari adalah waktu pengujian dan pemurnian.
- Bahtera
Dalam Kamus Alkitab, bahtera diartikan sebagai kapal yang dibuat Nuh untuk meluputkan diri, keluarganya dan binatang-binatang dari air bah. Jadi secara sederhana bahtera dapat dimaknai sebagai sarana pelindung. Dalam kitab suci, kita juga sering menemukan term ‘doa’. Yesus Kristus dalam injil Lukas menasihati para murid-Nya untuk berjaga-jaga sambil berdoa supaya mereka beroleh kekuatan untuk luput dari bahaya (Bdk. Luk. 21:36). Dalam konteks ini, doa juga dapat dimaknai sebagai sarana pelindung. Ada kemiripan antara term bahtera dan juga doa, tetapi konteks doa lebih luas karena selain sebagai sarana pelindung doa juga dimaknai sebagai sarana yang mempererat hubungan antara manusia dengan Tuhan.
Pesan Teologis
Kisah air bah mengajarkan pentingnya ketaatan dalam hidup manusia. Nabi Nuh dan keluarganya diselamatkan karena ketaatan mereka pada perintah Tuhan (bdk. Kej. 7: 1). Hal serupapun dialami oleh rasul Paulus dalam perjanjian baru. Paulus yang sebelumnya bernama Saulus adalah seorang pembunuh dan penganiaya umat Kristen. Namun setelah Yesus menampakkan diri padanya, ia bertobat dan kemudian menjadi Paulus yang taat pada perintah Tuhan (bdk. Kis. 9). Berkat ketaatannya itu, Paulus kemudian dipanggil menjadi rasul-Nya untuk mewartakan injil.
Dari kisah para tokoh alkitab tersebut, dapat dipelajari bahwa ketaatan dapat mengarahkan hidup pada hal yang benar. Sebaliknya sikap ketidaktaatan membawa manusia pada kebinasaan. Jhon Milton penyair Inggris menulis puisi demikian Of Man’s first disobedience, and the fruit of that forbidden tree whose mortal taste brought death into the world.[3] Ketidaktaatan dari manusia pertama, telah membawa kematian ke dunia. Tidak dapat dimungkiri bahwa dalam kitab suci juga terdapat banyak kisah tentang penghukuman atas orang-orang yang tidak taat pada perintah Tuhan.
Endnote
[1] William D. Reyburn & Euan McG. Fry, A Handbook on Genesis (United Bible Societies, 1997), hlm. 167.
[2] Para Kontributor Wikipedia, Utnapishtim, Wikipedia Ensiklopedia Bebas, 28 Juli 2021, https://id.wikipedia.org/wiki/Utnapishtim, diakses pada 21 Maret 2022.
[3] Jhon Milton, Paradise Lost (Project Gutenberg, 1991), hlm. 1














