Doa di Balik Kerudung

Namaku  Reno, umurku  28 tahun, aku seorang penjual rosario online dan, ya, ironi sekali, aku bahkan belum pernah masuk gereja dengan niat selain promosi dagangan.

Semuanya berubah ketika aku bertemu Suster Maria.

Hari itu aku datang ke biara karena ada pesanan rosario dalam jumlah besar. Aku pikir, “wah, kalau yang beli suster, pasti bayar tepat waktu.”

Tapi begitu aku melihatnya membuka pintu biara pakai kerudung putih bergaris biru, senyum tipis, dan suara lembut yang bisa bikin jangkrik berhenti nyanyi aku langsung sadar:

Aku baru saja jatuh cinta… pada seseorang yang sudah lebih dulu jatuh cinta kepada Tuhan.

“Terima kasih sudah mengantarkan pesanannya, Nak,” katanya sambil menandatangani nota.

Aku, yang biasanya cerewet, mendadak beku seperti lilin di altar.

“Eh… suster, kalau pesan lagi, boleh pakai nomor pribadi saya, ya. Biar… biar cepat responnya.”

Baik, tapi nanti saya simpan di daftar ‘supplier rosario’, ya.”

Aku mengangguk, meski dalam hati ingin daftar itu berubah jadi “calon doa harian.

Sejak hari itu, aku rajin antar pesanan kecil-kecilan padahal aku tahu mereka belum pesan apa-apa.

Kadang cuma aku bawa satu kotak rosario, kadang lilin satu batang.

“Stok gereja banyak, Nak,” kata Suster Maria heran.

“Oh, ini varian baru, suster. Aroma… eee… berkat ilahi.”

Suster hanya tersenyum. Aku yakin Tuhan di atas sedang menepuk jidat melihat adegan itu.

Suatu sore, aku nekat ikut misa di kapel kecil biara. Aku duduk paling belakang, berharap bisa fokus berdoa tapi tiap kali Suster Maria lewat, aku malah refleks bilang dalam hati:

“Ya Tuhan, kalau boleh, tolong sedikit saja izinkan aku jadi alas kaki Suster Maria.”

Lalu aku merasa bersalah, karena sadar itu doa yang pasti langsung dikembalikan ke pengirim.

Tapi malam itu, setelah misa, Suster Maria menghampiriku.

“Nak Reno, kamu rajin datang ke kapel ya sekarang?”

Aku gugup. “Iya, suster. Soalnya… suasananya damai. Eh, dan lilinnya harum!”

Suster tertawa pelan. “Syukurlah. Teruslah datang, tapi jangan karena orang. Datanglah karena Tuhan.”

Aku terdiam. Rasanya seperti ditampar lembut oleh kasih sayang.

Sejak itu aku mulai sungguh-sungguh berdoa bukan lagi minta cinta, tapi minta hati yang kuat menerima takdir.

Dan lucunya, makin aku berdoa agar bisa melupakan Suster Maria, aku malah makin sering dapat pesanan dari biara.

Mungkin, kupikir, Tuhan punya selera humor juga. Sekarang, setiap kali aku ke biara, aku tetap membawa rosario tapi bukan untuk dijual.

Aku letakkan satu di meja altar, sambil berbisik dalam hati:

“Tuhan, jagalah dia… dan kalau masih ada sedikit waktu, jagalah juga aku yang masih belajar mencintai dengan benar.”

Suster Maria kadang tersenyum dari jauh, dan aku tahu di balik kerudung itu, mungkin ada doa kecil untukku juga. Tidak untuk memiliki, tapi untuk tetap baik meski tak bersama. Dan entah kenapa, itu terasa cukup lucu… dan indah.

Ending.

Penulis: Sr Angela Florida Mau,ALMA