Fr. Febri Suryanto, SVD: Berproses di Tengah Umat Allah Afrika

Segalanya terasa baru—bahasa, budaya, makanan, ritme hidup, bahkan cara umat menghayati iman.

Fr. Febri bersama anak-anak di tanah misi Afrika

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio Tirilolok Swara Verbum mengundang Fr. Febrianus Suryanto, SVD atau biasa dikenal dengan Fr. Embik membagikan pengalaman misi yang terjadi di Tanah Afrika pada tahun Juli 2023- Juni 2025 kemarin. Fr. Febri merupakan salah satu alumni Sarjana Filsafat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Sejak Juli 2025, Fr. Febri memasuki masa Novisiat Kekal di Seminari Tinggo St. Paulus Ledalero sekaligus sebagai mahasiswa S2 di IFTK Ledalero. Berikut beberapa pertanyaan wawancara tim radio bersama Fr. Febri Suryanto, SVD.

1) Bagaimana pengalaman awal bermisi Fr. Febri di tanah Afrika?

Pengalaman awal saya di tanah Afrika sungguh berkesan sekaligus menantang. Segalanya terasa baru—bahasa, budaya, makanan, ritme hidup, bahkan cara umat menghayati iman. Saya memasuki situasi yang agak berbeda dari apa yang pernah saya alami di Indonesia. Di hari-hari pertama, saya sering merasa canggung karena keterbatasan bahasa dan belum terbiasa dengan kebiasaan lokal. Namun, keramahan umat dan keterbukaan keluarga-keluarga membuat saya cepat merasa diterima.

Awal masa misi ini bagi saya bagaikan “sekolah kehidupan”. Saya belajar bahwa misi tidak identik dengan datang membawa banyak hal, melainkan dengan kesiapan untuk belajar dan mendengarkan. Misalnya, ketika saya hadir dalam perayaan liturgi, umat dengan sabar mengajarkan nyanyian liturgi dan tata gerak sederhana yang khas budaya mereka. Dari situ saya menyadari bahwa Roh Allah bekerja lewat kebersamaan yang sederhana, bahkan melalui tawa kecil ketika saya keliru mengucapkan kata-kata dalam bahasa Prancis atau Kikongo.

Bagi saya, pengalaman awal ini adalah undangan untuk keluar dari zona nyaman dan benar-benar hidup bersama umat. Saya tidak datang sebagai seorang yang “mengajar” saja, tetapi juga sebagai seorang murid yang setiap hari belajar tentang iman, ketekunan, dan sukacita dari umat di Kongo.

2) Bagaimana gambaran singkat Paroki tempat Fr. Febri bermisi?

Saya menjalani masa TOP di Paroki Santo Paulus, Bandundu, Keuskupan Kenge. Paroki ini cukup besar, dengan umat yang hidupnya sederhana dan penuh semangat iman. Kehidupan Gereja sangat terasa: umat rajin hadir dalam Ekaristi, aktif dalam koor, devosi, dan kegiatan kategorial. Mereka menaruh hormat yang tinggi kepada imam dan frater, sekaligus sangat terbuka dan bersahabat.

3) Apa saja tantangan yang dihadapi ketika bermisi di tengah umat Allah Tanah Afrika?

Tantangan utama tentu soal bahasa dan budaya. Saya perlu waktu untuk bisa memahami bahasa Prancis dan Kikongo, bahasa yang dipakai umat. Proses ini tidak mudah, karena bahasa bukan sekadar soal tata kata, tetapi juga menyangkut cara berpikir dan cara berelasi. Saya harus belajar tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati.

Selain bahasa, kondisi geografis dan fasilitas juga menjadi tantangan. Kadang listrik dan air tidak selalu lancar, perjalanan jauh pun melelahkan karena jalan tidak selalu baik. Di musim hujan, lumpur bisa membuat jarak dekat terasa sangat jauh. Dalam situasi ini, saya benar-benar belajar arti kesabaran dan kerendahan hati. Tantangan lain adalah soal perbedaan budaya: bagaimana memahami cara orang Afrika mengekspresikan sukacita, kesedihan, atau bahkan konflik. Ada saat-saat ketika saya merasa bingung, tetapi justru di situ saya belajar untuk rendah hati, tidak cepat menilai, dan berusaha mengerti dari perspektif mereka.

4) Apa saja program yang pernah dijalankan selama masa TOP?

Selama masa TOP, saya terlibat dalam berbagai kegiatan pastoral: membantu pelayanan liturgi, kunjungan umat, dan pendampingan kelompok kategorial. Selain itu, saya juga ikut ambil bagian dalam kerja di sekolah milik SVD di Bandundu, di mana saya dipercayakan untuk membantu sebagai ekonom sekolah.

5) Bagaimana harapan misi SVD ke depannya di Tanah Afrika?

Harapan saya, misi SVD di tanah Afrika semakin berkembang dengan wajah yang benar-benar mengakar pada budaya setempat, sekaligus membawa semangat Sabda Allah yang membebaskan. Semoga semakin banyak frater dan imam yang siap melayani di sana agar Gereja semakin hidup, pendidikan semakin maju, dan nilai-nilai kemanusiaan makin ditegakkan. Saya percaya, karya misi ini bukan hanya memberi sesuatu bagi Afrika, tetapi juga memperkaya kami sendiri yang diutus.