Keuskupan Agung Kupang Menuju 60 Tahun, Umat Didorong Jadi Saksi Kristus

Rayakan tiga momen iman.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONALPerayaan Ekaristi digelar di Gereja Katedral Kristus Raja, Kupang, pada Senin (13/4/2026), untuk merayakan tiga momen iman sekaligus, yakni peringatan satu tahun wafatnya Mgr. Petrus Turang (Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang), ulang tahun ke-57 Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni, serta pencanangan perayaan 60 tahun berdirinya Keuskupan Agung Kupang (13 April 1967–13 April 2027). Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Dalam homilinya, Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan bahwa sejak awal, Gereja memahami bahwa menyatakan nama Kristus berarti mengambil bagian dalam misi-Nya, hidup menurut nilai-nilai-Nya, serta siap menghadapi penderitaan bersama-Nya.

“Menyatakan nama Kristus berarti ikut ambil bagian dalam misi-Nya, hidup menurut nilai-Nya, bahkan siap menderita bersama-Nya.”

Ia menjelaskan, bagi orang-orang Farisi, Kerajaan Allah sering dipahami sebagai ketaatan sempurna terhadap hukum.

Namun, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan sekadar soal aturan lahiriah, melainkan tentang transformasi batin, yakni kelahiran baru oleh air dan Roh.

“Masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan soal aturan lahiriah, tetapi perubahan hidup—kelahiran baru oleh air dan Roh.”

Dalam suasana Paskah, umat diajak untuk merefleksikan kemurnian dan keaslian iman. Ia menyinggung sosok Nikodemus sebagai contoh orang yang tertarik kepada Kristus, tetapi masih ragu untuk berkomitmen penuh.

“Apakah kita masih ragu seperti Nikodemus, atau sudah berani dilahirkan kembali dan menjadi saksi Kristus?”

Lebih lanjut, ia mengajak umat merenungkan tiga momen penting yang sedang dirayakan, yakni:

  1. Syukur atas perjalanan Keuskupan Agung Kupang yang kini memasuki usia ke-59 dan menyongsong 60 tahun.
  2. Peringatan satu tahun wafatnya Mgr. Petrus Turang.
  3. Perayaan ulang tahun Mgr. Petrus Turang yang ke-75.

Menurut Uskup Agung Kupang, ketiga momen ini bukan sekadar peristiwa seremonial, tetapi ajakan untuk melihat karya Allah yang terus hidup dalam Gereja.

Ia menegaskan bahwa perjalanan panjang Keuskupan Agung Kupang bukan hanya hasil usaha manusia, melainkan karya Roh Kudus yang membimbing umat.

“Perjalanan keuskupan ini bukan sekadar perjalanan manusiawi, tetapi perjalanan iman yang dipimpin oleh Roh Kudus.”

Ia juga menekankan bahwa keberlangsungan Gereja tidak bergantung pada struktur organisasi atau kemampuan manusia semata.

“Keuskupan ini tetap hidup bukan karena kehebatan manusia, tetapi karena Roh Kudus yang terus berkarya.”

Dalam refleksinya tentang para gembala, ia mengingat kembali peran Mgr. Gregorius Manteiro, SVD sebagai uskup pertama dengan motto “Opus Justitiae Pax” (karya keadilan adalah perdamaian), yang menegaskan bahwa tanpa keadilan, tidak mungkin ada perdamaian.

Ia juga mengenang Mgr. Petrus Turang sebagai gembala kedua dengan motto “Pertransit Benefaciendo”, yang dikenal karena kesetiaan dan pengabdiannya kepada umat.

Mgr. Petrus Turang digambarkan sebagai sosok sederhana yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya bagi pelayanan Gereja.

“Beliau adalah gembala yang setia, yang menyerahkan seluruh hidupnya bagi umat Allah.”

Ia menambahkan bahwa hidup Mgr. Petrus Turang mencerminkan seorang peziarah sejati yang tidak menggantungkan hidup pada hal duniawi, melainkan pada harapan akan kehidupan kekal.

Mengenang satu tahun wafatnya Mgr. Petrus Turang, umat diajak untuk tidak larut dalam nostalgia, tetapi menjadikannya sebagai momentum untuk melanjutkan karya pelayanan.

“Peringatan ini bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk menyalakan kembali semangat melanjutkan karya yang telah dimulai.”

Di akhir homili, umat diajak untuk terus terbuka pada karya Roh Kudus agar semakin berani dan setia dalam menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

“Semoga Roh Kudus menguatkan kita untuk menjadi saksi Kristus yang hidup, berani, dan setia.”