Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Selama lebih dari 27 tahun, Bapak Yoseph S. Meko tidak hanya mengemudi kendaraan untuk mengantar seorang uskup agung. Ia mengemudi dalam sebuah perjalanan hidup yang penuh makna, menjadi saksi diam-diam dari seorang gembala yang hidup tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata. Ia mengenal Uskup Emeritus Mgr. Petrus Turang bukan hanya dari sorot kamera atau mimbar altar, tapi dari jarak sangat dekat—di ruang sunyi mobil, di balik keramaian pastoral, dan di sela-sela waktu yang terus bergulir. Dari pengalaman itulah, bapak Yoseph mengungkapkan empat karakter mendalam sang Uskup Emeritus yang membekas di hatinya: on time, tegas, prinsipil, dan fleksibel.
Karakter-karakter ini, menurut bapak Yoseph, bukan sekadar gaya kepemimpinan, tapi refleksi dari integritas dan spiritualitas Mgr. Petrus sebagai gembala sejati. Dan inilah kisahnya.
On Time: Waktu adalah Cermin Tanggung Jawab
Bagi Mgr. Petrus, waktu adalah bentuk penghormatan terhadap sesama dan terhadap tugas ilahi. Bapak Uskup ini tidak pernah terlambat, bahkan tidak pernah molor satu detik pun. Kalau jadwal misa jam 09.00 pagi, beliau sudah siap 30 menit sebelumnya.” Demikian ujar bapak Yoseph.
Bapak Uskup tidak pernah berkompromi soal waktu—bagi beliau, waktu adalah wujud kasih yang paling konkret. Ketepatan waktunya bukan soal disiplin belaka, tapi cerminan kerendahan hati. Ia tak pernah merasa dirinya terlalu penting untuk datang terlambat. Justru di situlah martabatnya sebagai gembala tampak: ia memilih hadir lebih dulu, menanti umatnya, karena baginya, mencintai berarti hadir tepat waktu bagi yang dilayani.
Tegas: Kebenaran Butuh Keberanian
Ada satu kata yang melekat kuat pada pribadi Mgr. Petrus: tegas. Ia tidak bermain abu-abu dalam membuat keputusan. “Beliau tidak suka keraguan, apalagi kompromi yang menabrak prinsip,” kata bapak Yoseph. Dalam berbagai rapat atau pertemuan penting, sang uskup selalu menjadi penentu yang lugas. Ia bisa berkata “tidak” tanpa ragu, jika memang itu bukan jalan yang benar.
Namun ketegasan itu tidak datang dari kekuasaan, melainkan dari keyakinan dan kasih. Bapak Yoseph pernah menyaksikan bagaimana Mgr. Petrus menegur stafnya dengan keras, namun kemudian memanggil mereka secara pribadi untuk menjelaskan alasannya dan memberi arahan yang membangun. Tegas, tapi penuh kasih. Tegas, tapi tidak pernah mempermalukan. Ia tidak takut kehilangan popularitas, asal prinsip dan martabat Gereja tetap dijaga.
Prinsipil: Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam Kebenaran
Prinsip hidup Mgr. Petrus tidak dibentuk oleh tren atau tekanan sosial. Ia berakar pada iman dan ajaran Gereja. “Lebih baik saya tidak disukai orang, daripada saya mengecewakan Kristus,” begitu kalimat yang pernah dilontarkannya. Dan bapak Yoseph tahu, itu bukan retorika, tapi sikap hidup.
Dalam hal liturgi, moralitas, dan kehidupan rohani, ia teguh berdiri. Ia tak pernah menggampangkan nilai. Ia berpakaian rapi karena menghormati Tuhan dan umat. Ia berbicara santun karena tahu setiap kata bisa membentuk jiwa. Dan dalam setiap keputusan pastoral, ia selalu menimbang bukan berdasarkan ‘apa yang diinginkan banyak orang’, tapi ‘apa yang dikehendaki Tuhan’.
Fleksibel: Mempertibangkan situasi riil
Meski berprinsip dan tegas, Mgr. Petrus bukanlah pribadi yang kaku. Ia tahu kapan harus menyesuaikan diri dengan situasi. “Bapak Uskup tahu kapan harus bersikap lembut,” kenang bapak Yoseph. Dalam kunjungan pastoral ke tempat terpencil, beliau tak pernah rewel soal makanan atau tempat tidur. Ia bisa makan ubi rebus bersama umat, tidur di pastoran yang sederhana, bahkan misa di ruang kecil seadanya. Yang penting, umat merasakan kehadiran gembalanya.
Fleksibilitas Mgr. Petrus Turang juga tampak nyata dalam keterbukaannya untuk mendengar. Ia bukan tipe pemimpin yang merasa selalu paling benar. Bapak Yoseph mengungkapkan, “Kami yang berada di dekatnya sangat merasakan bagaimana beliau selalu mempertimbangkan situasi dengan hati yang terbuka.” Inilah wajah seorang gembala sejati—yang menyadari bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus tahu segalanya, melainkan mampu memahami, merangkul, dan menyesuaikan diri dengan mereka yang dipimpin, demi kebaikan bersama.
Ia Telah Pergi, Tapi Jejaknya Takkan Terhapus
Kini, sang gembala telah berpulang. Tapi kisah tentang ketepatan waktunya, ketegasannya, keteguhan prinsipnya, dan kebijaksanaannya dalam bersikap tetap hidup dalam kenangan. Kesaksian bapak Yoseph S. Meko bukan hanya cerita tentang seorang pemimpin Gereja, tapi tentang sahabat perjalanan yang menghayati moto episkopalnya “ Per Transiit benefaciendo” – berjalan sambil berbuat baik.
Mgr. Petrus Turang, Pr., telah menyelesaikan perlombaan dengan setia. Dan ia telah memberi kita peta: bahwa menjadi pelayan Tuhan bukan tentang jabatan, tetapi tentang bagaimana kita hidup setiap hari—tepat waktu, tegas dalam kebenaran, setia pada prinsip, dan bijaksana dalam kasih.
Kini giliran kita. Melanjutkan langkah-langkahnya. Menjadi terang dalam dunia. Sebab seorang gembala boleh pergi, tetapi semangatnya tetap menyala dalam hati umat yang pernah disentuhnya.














