Minggu Palma, Cinta yang Memikul Salib

Palma Tak Sekadar Daun, Tapi Doa yang Hidup.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Pada Minggu, (13/4/2025), Gereja Katolik Santa Maria Assumpta Kupang menjadi saksi perayaan Ekaristi Minggu Palma yang penuh makna. Daun palma dikibarkan dengan penuh kasih sebagai lambang penyambutan Raja Damai yang memasuki Yerusalem, bukan dalam kemegahan duniawi, melainkan dengan kelembutan hati.

Setiap langkah menjadi awal perjalanan menuju kisah cinta terbesar yang pernah ada—kisah salib dan kebangkitan.
Perayaan Minggu Palma dipimpin oleh Pastor Paroki Santa Maria Assumpta, Romo Rudolf Tjung Lake, Pr.

Dalam wawancara bersama Radio TIRILOLOK, Romo Rudy menjelaskan bahwa perayaan Minggu Palma mengandung makna yang sangat istimewa. Tuhan Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai—hewan yang melambangkan kesederhanaan, perdamaian, dan keteguhan dalam memikul beban kehidupan.

Pilihan tersebut menunjukkan, Sang Raja membawa damai dalam kerendahan hati serta memikul dosa umat manusia demi keselamatan.

Daun palma yang dikibarkan menjadi simbol sukacita, kemenangan, dan kejayaan. Meski pada akhirnya akan mengering dan dibakar untuk menjadi abu pada Rabu Abu, abu itu tetap menyimpan makna pertobatan dan pembaruan hidup.

Romo Rudy juga mengajak seluruh umat memasuki Pekan Suci dengan hati yang terbuka, merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus. Sorak-sorai yang dahulu memuji Sang Juru Selamat kerap berubah menjadi seruan penyaliban.

Oleh karena itu, refleksi atas perjalanan hidup menjadi penting dalam membangun semangat pertobatan, termasuk dalam dimensi ekologis.

Dalam semangat yubileum, arah hidup diarahkan kepada Sang Sumber Kehidupan, membangun harmoni dengan sesama, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan—termasuk mendukung upaya pemerintah dalam pengelolaan sampah dan pelestarian bumi sebagai rumah bersama.

Warna liturgi yang digunakan dalam perayaan Minggu Palma adalah merah.