Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Dalam keheningan kehidupan rohani dan dinamika pastoral yang kompleks, seorang gembala umat memilih satu kalimat dari Kisah Para Rasul sebagai moto hidup dan pelayanannya: “Per transiit benefaciendo” — “Ia berkeliling sambil berbuat baik” (Kis. 10:38). Kalimat ini bukan hanya sekadar semboyan dalam surat pengangkatannya sebagai uskup, tetapi menjadi napas yang menyertai setiap langkah pelayanan Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr.
Motto ini bukan karena keindahan retorikanya
Mgr. Petrus Turang Pr. Memilih motto “Per transiit benefaciendo” bukan karena retorikanya yang indah atau enak didengar melainkan karena kebenaran yang hidup dan yang dihayati dalam semangat Kristus sendiri. Dalam Injil dan Kisah Para Rasul, Yesus hadir di tengah umat bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai sahabat, tabib, gembala, dan guru—yang selalu berkeliling sambil berbuat baik. Hal ini menjadi prinsip dasar dalam seluruh pengabdian pastoral Mgr. Petrus. Sebuah moto yang bukan sekadar semboyan, tetapi sungguh dihidupi—bukan hanya selama 27 tahun masa pelayanannya sebagai Uskup Keuskupan Agung Kupang, tetapi juga hingga akhir hayatnya. Per Transiit Benefaciendo—“Ia (Yesus) berkeliling sambil berbuat baik” (Kis. 10:38)—bukan hanya tercantum dalam dokumen resmi tahbisan episkopalnya, tetapi tertulis dalam setiap langkah pengabdiannya.
Mgr. Petrus Turang, Pr dikenal sebagai seorang gembala yang tidak hanya hadir secara simbolis, melainkan betul-betul merasuk ke dalam kehidupan umat yang dilayaninya. Ia menyapa, mendengar, dan hadir dengan sepenuh hati. Dari pelosok desa terpencil di Pulau Alor, Rote, Sabu, Semau, dan daratan Timor, hingga ke pusat kota Kupang, Mgr. Petrus tidak pernah segan untuk turun langsung ke tengah umat. Ia memilih untuk melihat dengan mata sendiri kondisi nyata yang dialami umatnya, berbicara dengan para orang muda, menyalami umat paroki satu per satu, dan menyentuh luka-luka sosial yang dialami oleh masyarakat dengan kasih pastoral yang tulus.
Baginya, menjadi gembala berarti berjalan bersama kawanan domba, bukan mengatur dari kejauhan. Dan dalam jejak langkahnya, kasih Kristus dinyatakan lewat perhatian yang konkret, pelayanan yang rendah hati, dan kesetiaan yang tanpa pamrih. Moto hidupnya sungguh menjadi cermin dari hidupnya: berkeliling dan berbuat baik—hingga akhir.
Tak terhitung jumlah stasi dan komunitas umat basis (KUB) yang dikunjungi Mgr. Petrus Turang, bahkan dalam kondisi geografis yang sulit dan medan yang melelahkan. Di bawah terik matahari atau melintasi jalan berbatu dan berdebu, beliau tetap melangkah. Seorang imam pernah mengisahkan bahwa bagi Uskup Turang, “misi bukan hanya soal berkhotbah, tetapi hadir dan mendengarkan adalah bentuk cinta yang paling nyata.” Itulah wujud nyata dari per transiit benefaciendo.
Melayani dengan Kebaikan, Bukan Kekuasaan.
Mgr. Petrus tidak pernah melihat keuskupan sebagai institusi kekuasaan, melainkan ladang pelayanan. Di tengah berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang membayangi kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur, beliau memilih untuk tetap berdiri sebagai gembala yang berpihak kepada yang kecil, miskin, dan terpinggirkan. Kepeduliannya terhadap pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat menjadi bukti bahwa kebaikan itu harus menjelma dalam aksi konkret.
Salah satu contoh nyata adalah dukungan aktifnya terhadap sekolah-sekolah Katolik di pedalaman. Beliau memahami bahwa pendidikan adalah kunci perubahan. Maka, tak jarang beliau menggalang dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga internasional, untuk memperbaiki fasilitas pendidikan di daerah yang nyaris tak terjamah negara. Ia tidak mencari nama, tapi memastikan bahwa anak-anak memiliki nama dan masa depan yang jelas.
Gembala yang Peka Terhadap Detail
Apa yang dikenang dari Mgr. Petrus oleh banyak imam dan umat adalah kepekaannya terhadap detail kecil. Mgr. Petrus Turang dikenang sebagai gembala yang peka terhadap detail kecil, sebuah kepekaan yang lahir dari kasih sejati. Ia mengingat nama imam-imamnya, mencatat ulang tahun mereka, dan tidak segan menegur jika ada yang mulai menyimpang—semuanya dilakukan bukan demi administrasi, melainkan sebagai ungkapan cinta gembala terhadap kawanan dombanya. Ia menjalani moto Per transiit benefaciendo dengan nyata: berbuat baik dalam hal-hal kecil sekalipun.
Ketegasan dalam Kasih: Teguh dalam Prinsip, Lembut dalam Hati
Mgr. Petrus Turang bukanlah gembala yang hanya mengandalkan kelembutan, tetapi juga dikenal karena ketegasannya yang berakar pada kasih sejati. Ia berdiri teguh pada prinsip iman dan moral, dan tidak ragu menegur siapa pun yang menyimpang dari jalan pelayanan. Namun, ketegasan itu selalu disampaikan dalam semangat cinta yang membangun, bukan menjatuhkan.
Dalam suatu rekoleksi imam, beliau pernah mengingatkan dengan penuh makna: “Jangan takut mengatakan yang benar, tetapi katakanlah dengan cinta. Kebenaran tanpa cinta adalah kekerasan, dan cinta tanpa kebenaran adalah kebohongan.” Kalimat ini menjadi cermin jati dirinya: seorang pemimpin yang tidak berkompromi pada kebenaran, namun tetap menyampaikannya dengan kelembutan hati. Ia mengajarkan bahwa kasih dan kebenaran tidak bisa dipisahkan, keduanya harus berjalan bersama agar pelayanan sungguh menjadi tanda kehadiran Kristus di tengah umat.
Meninggalkan Jejak Kebaikan
Kini, saat beliau telah berpulang ke rumah Bapa, warisan yang ditinggalkannya bukan sekadar bangunan fisik atau tatanan organisasi. Yang paling hidup adalah jejak kebaikan yang berakar dalam hati umat, para imam, dan seluruh komunitas Gereja—buah dari setiap langkahnya yang setia dan penuh kasih. Dalam semangat “berkeliling sambil berbuat baik,” Mgr. Petrus Turang mewujudkan nubuat Yesaya: “Roh Tuhan akan tinggal padanya: roh kebijaksanaan dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan” (bdk. Yes 11:2). Jejak itu kini menjadi cahaya bagi perjalanan Gereja, warisan rohani yang terus hidup dan menginspirasi.
Mgr. Petrus Turang, Pr. telah menyelesaikan ziarah imannya dengan setia, menghidupi hingga akhir moto pelayanannya: Per transiit benefaciendo — “Ia berkeliling sambil berbuat baik.” Ia tidak hanya mengucapkannya, tetapi menjadikannya napas hidup setiap langkahnya. Kini, estafet itu berpindah ke tangan kita. Dunia menantikan lebih banyak pribadi yang hadir, mendengarkan, menyapa, dan meneguhkan dengan cinta. Semoga kelak kita pun dikenang bukan karena gelar atau pencapaian duniawi, tetapi karena jejak kebaikan yang kita tinggalkan. Sebab hidup yang bermakna adalah hidup yang dijalani dalam semangat memberi, hadir, dan mengasihi—dalam terang per transiit benefaciendo.














