Pesan Inspiratif Uskup Agung Kupang Saat Perayaan Perak Imamat

Perayaan Pesta Perak Imamat untuk tiga imam.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Suasana syukur dan haru menyelimuti Gereja Paroki Santo Yoseph Naikoten saat perayaan Pesta Perak Imamat untuk tiga imam: Romo Yohanes Rusae, Romo F. Maxi Un Bria, dan Pater Yohanes Tamonob, SVD. Perayaan yang berlangsung pada Rabu (3/9/2025) ini menandai 25 tahun kesetiaan mereka dalam pelayanan imamat.

Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, yang dalam kotbahnya menyampaikan pesan mendalam tentang makna panggilan imamat.

“Seorang imam bukan milik dirinya sendiri,” ujar Mgr. Hironimus Pakaenoni. “Ia dipanggil untuk menjadi Kristus sendiri. Dalam setiap sakramen, terutama Ekaristi, imam bertindak atas nama Tuhan Yesus, bukan atas nama pribadi.”

Uskup Agung Kupang mengatakan bahwa kehidupan seorang imam menuntut pengorbanan, bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga dalam batin dan spiritualitas.

“Imam harus rela melepas kenyamanan pribadi, ambisi duniawi, bahkan dirinya sendiri demi pelayanan,” tegasnya. “Seperti Kristus yang menyerahkan diri-Nya di kayu salib, imam juga dipanggil untuk menyerahkan hidupnya.”

Lebih lanjut, Mgr. Hironimus Pakaenoni menekankan pentingnya kehidupan doa sebagai pusat spiritualitas imam.

“Doa bukan pelengkap, tapi pusat hidup. Maka adorasi harian di hadapan Sakramen Mahakudus adalah fondasi yang tak tergantikan dalam memperdalam hubungan pribadi dengan Yesus Kristus, Imam Agung dan Gembala Baik,” katanya.

Pelayanan imam, menurut Uskup Uskup Agung Kupang, bukan sekadar pekerjaan atau profesi, melainkan panggilan dan identitas ilahi.

“Imam adalah milik umat. Ia hadir untuk mengajar, menggembalakan, dan melayani, bukan dengan kekuatannya sendiri, tapi oleh rahmat Tuhan,” ujar Uskup. “Hidupnya bukan hidup biasa, tapi dipisahkan untuk Allah. Itulah yang menjadikannya berbeda.”

Perayaan ini bukan hanya mengenang perjalanan 25 tahun para imam dalam suka dan duka, tapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kesetiaan dalam panggilan ilahi. Ketiga imam yang dirayakan telah menunjukkan bahwa imamat bukan sekadar gelar, melainkan komitmen hidup untuk Tuhan dan umat-Nya.

“Merayakan 25 tahun imamat bukan sekadar melihat ke belakang, tetapi berjalan terus sebagai seluruh peziarah menuju tanah air surgawi,” ujar Mgr. Hironimus Pakaenoni dalam penutup sambutannya.

Di akhir perayaan, umat dan seluruh tamu undangan menyampaikan ucapan syukur dan apresiasi atas pengabdian ketiga imam yang selama seperempat abad telah menjadi pelita, penuntun, dan penggembala bagi banyak jiwa.