Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Para Penjualan takjil kembali beraktivitas di depan Gereja Katedral Kristus Raja Kupang, Rabu (25/2/2026).
Aktivitas tersebut hadir di tengah dua momentum keagamaan yang berjalan bersamaan, yakni masa Paskah bagi umat Katolik dan Ramadan menjelang Lebaran bagi umat Muslim.
Dalam wawancara bersama wartawan, di ruang kerjanya, Pastor Paroki Katedral Kristus Raja Kupang, Romo Vinsenaius Tamelab, Pr., menyampaikan bahwa halaman depan gereja setiap tahun dimanfaatkan warga untuk berjualan takjil selama Ramadan.
“Setiap tahun, umat dan warga sekitar memanfaatkan area depan gereja untuk berjualan takjil. Pada prinsipnya, kami dari pihak gereja tidak melarang, selama tetap menjaga ketertiban dan tidak mengganggu jalannya ibadat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pengelola gereja telah berkoordinasi dengan lurah setempat sebelum memberikan izin kepada para pedagang. Koordinasi dilakukan agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa menghambat akses umat yang datang beribadah.
“Kami sudah berkomunikasi dengan pihak kelurahan dan juga para pedagang. Yang penting akses keluar-masuk umat tetap lancar, terutama saat perayaan liturgi berlangsung,” jelasnya.
Jadwal ibadah, lanjut Romo Vinsenaius, telah dibagikan kepada umat dan juga diinformasikan kepada para pedagang sebagai pedoman bersama. Penyesuaian waktu dinilai penting untuk menjaga kelancaran ibadah serta mencegah kepadatan kendaraan.
“Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat pembeli membludak, area parkir tidak cukup menampung kendaraan hingga terjadi kemacetan. Karena itu, pengaturan waktu dan kerja sama semua pihak sangat kami harapkan,” katanya.
Pengelola juga mengingatkan pedagang untuk menjaga kebersihan pelataran gereja. Aktivitas jual beli tetap diperbolehkan selama menghormati jadwal ibadat dan menjaga suasana tetap kondusif.
“Kami minta setelah berjualan, sampah dibersihkan. Kebersihan dan ketertiban adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, Romo Vinsenaius mengajak untuk terus merawat toleransi dan saling menghormati antarumat beragama.
“Kita hidup berdampingan. Momentum ini justru menjadi kesempatan untuk saling memahami dan menghargai. Toleransi itu harus dirawat lewat komunikasi dan sikap saling menghormati,” ujarnya.
Dengan koordinasi yang baik, penjualan takjil di depan gereja diharapkan dapat berjalan tertib tanpa mengganggu ibadah maupun arus lalu lintas di kawasan tersebut.














