Tantangan Air dan Iklim Masih Membayangi Pertanian NTT

NTT: Nusa Tani Ternak.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Radio TIRILOLOK menggelar talkshow bertema “NTT: Nusa Tani Ternak” dengan menghadirkan Ir. Yohanes Tay Ruba, MM, Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTT periode 2011–2019, bersama petani muda sekaligus Owner GS Farm Organik, Gestianus Sino, pada Sabtu, (9/5/2026), di Studio Radio TIRILOLOK.

Dalam dialog interaktif, Yohanes Tay Ruba memaparkan perkembangan kebijakan pertanian di NTT yang terus mengalami perubahan dari masa ke masa.

Menurutnya, sejumlah gubernur terdahulu memiliki kontribusi besar dalam pembangunan sektor pertanian di daerah.

“Sektor pertanian tetap menjadi fokus utama pembangunan karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat, seperti pangan, sandang, dan papan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembangunan daerah juga mulai diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Selain itu, NTT memiliki potensi pertanian yang besar dengan luas lahan mencapai 1,8 juta hektar yang terdiri atas area persawahan, lahan kering, tegalan untuk peternakan, hingga padang penggembalaan.

Meski memiliki potensi yang luas, sektor pertanian di NTT masih menghadapi sejumlah tantangan.

Kondisi iklim semi-arid atau kering menyebabkan curah hujan berlangsung singkat, terutama di wilayah timur dan Pulau Sumba yang rata-rata hanya mengalami musim hujan selama tiga hingga empat bulan.

“Persoalan utama pertanian di NTT masih berkaitan dengan air,” jelas Yohanes Tay Ruba.

Selain faktor iklim, tantangan lain juga muncul pada kualitas sumber daya manusia, terutama dalam pemahaman budidaya, manajemen usaha tani, dan bisnis pertanian modern.

Kondisi geografis NTT sebagai daerah kepulauan turut memengaruhi distribusi hasil pertanian antarwilayah sehingga pemenuhan kebutuhan pasar lokal masih menjadi prioritas utama.

Pada kesempatan yang sama, Gestianus Sino membagikan pengalamannya membangun usaha pertanian sejak menyelesaikan pendidikan kuliah. Ia memilih menjadi petani meski profesi tersebut kerap dipandang kurang menjanjikan secara ekonomi.

Usaha pertanian itu dimulai dengan mengolah lahan seluas 1.000 meter persegi di wilayah Matani yang didominasi batu karang. Proses pembersihan batu dilakukan secara manual dan memakan waktu hingga dua tahun.

Untuk meningkatkan kesuburan tanah, Gestianus mendatangkan tanah galian dari luar lokasi guna membentuk lapisan humus di atas lahan berbatu. Langkah tersebut menjadi awal pengembangan pertanian organik yang kemudian terus berkembang.

Komoditas pertama yang dibudidayakan ialah pepaya California karena memiliki permintaan pasar yang tinggi.

Pengembangan usaha kemudian berlanjut pada berbagai jenis sayuran lokal seperti kangkung, bayam, dan sawi manis yang dipasok ke sejumlah hotel.

Selain sayuran umum, GS Farm Organik juga membudidayakan berbagai jenis sayuran premium sesuai kebutuhan pasar hotel, seperti kailan, kucai, selada hijau, selada ungu, beetroot, dan som.

“Pertanian harus dibangun dengan ketekunan dan kemampuan membaca kebutuhan pasar,” ujar Gestianus Sino.

Setelah infrastruktur air berhasil dibangun, mulai dari penggunaan terpal hingga sumur bor, pengembangan usaha diperluas melalui integrasi pertanian dan peternakan dengan budidaya ikan lele serta kambing.

Pada sektor pertanian, komoditas utama di NTT meliputi jagung, padi, kedelai, dan kacang hijau.