Namaku Dara, pemilik kedai kopi kecil di sudut kota yang lebih sering disambangi angin daripada pelanggan.
Aku buka sejak pandemi, tapi pelanggan tetapku cuma dua: Ibu kos yang datang tiap pagi tapi nggak pernah bayar, dan seekor kucing oranye yang hobi tidur di etalase dan kutemani ngobrol biar nggak sepi.
Sampai suatu sore datang pria itu berjaket denim, senyum ramah, dan gaya rambut yang seolah berbisik, “aku tidak punya niat jahat, cuma haus.”
“Segelas kopi hitam, tanpa gula,” katanya.
Aku langsung jatuh cinta…karena biasanya yang pesan tanpa gula, hatinya yang manis.
Setiap sore ia datang. Duduk di kursi pojok, menghadap jendela.
Namanya Rafi, katanya kerja di kantor sebelah.
Entah kenapa, setiap kali dia datang, kopi di tanganku terasa lebih harum.
Padahal bubuknya sama, airnya juga air galon yang sama.
Mungkin cinta memang punya efek seperti gula: tidak terlihat, tapi bikin segalanya terasa lebih lembut.
Suatu hari aku tanya, “Mas Rafi, kenapa selalu datang pas senja?”
Dia tersenyum kecil. “Karena senja nggak pernah terburu-buru. Sama seperti kamu waktu nyeduh kopi.”
Aku langsung tercekat.
Antara meleleh dan ingin nimpuk dia pakai sendok pengaduk.
Lama-lama kami jadi akrab. Kadang dia bantu cuci gelas, kadang cuma duduk sambil nulis di buku catatannya.
Pernah aku curi lihat—isinya bukan laporan kerja, tapi puisi.
Salah satunya berbunyi: “Ia menakar cinta seperti menakar gula sedikit saja, tapi cukup untuk mengubah segalanya.”
Aku pura-pura nggak tahu, tapi pipiku rasanya seperti susu panas yang hampir mendidih.
Suatu sore yang basah oleh hujan, kedai sepi.
Rafi datang basah kuyup, bawa bunga mawar yang kelopaknya hampir rontok.
“Untuk kamu,” katanya.
Aku tertawa, “Mas, ini bunga atau korban banjir?”
Dia ikut tertawa. “Yang penting niatnya sampai.”
Kami duduk di sudut kedai, minum kopi sambil nonton hujan jatuh.
Rafi menatapku lama, lalu berkata pelan, “Dara, kamu sadar nggak, tiap sore aku datang bukan buat kopi?”
Aku deg-degan. “Terus buat apa?”
“Buat alasan ngobrol sama kamu tanpa terlihat niat.”
Aku spontan menutup muka pakai celemek.
Astaga, Mas, itu gombal banget. Tapi… kenapa aku senang ya?”
Sejak hari itu, kedai kopi kecilku tidak pernah sepi lagi.
Rafi masih datang setiap senja, tapi kini duduknya bukan di pojok melainkan di seberang meja, bersamaku.
Kami kadang bertengkar soal hal konyol: dia suka kopi pahit, aku suka yang manis; dia suka senja, aku suka pagi; tapi kami sepakat satu hal: cinta itu seperti kopi. Kalau kebanyakan gula, malah kehilangan rasa aslinya.
Kini, setiap sore aku menyeduh dua cangkir. Satu untuknya, satu untukku.
Di antara aroma kopi dan warna langit oranye, kami belajar bahwa cinta tak selalu datang dengan dramatis.
Kadang, ia datang diam-diam, di antara tawa ringan dan seteguk hangat di cangkir senja.
✨ Ending.














