Meretas Mimpi di Radio TIRILOLOK: Kisah Awal di Kupang Ibu Kota Provinsi NTT

Tantangan terbesar datang ketika saya diminta menulis berita.

Efania Ina dari Universitas Katolik Weetebula

Hari itu tiba, hari yang telah lama saya nantikan dan sekaligus mengusik hati dengan perasaan rindu yang mendalam. Saya, Efania Ina, seorang mahasiswi dari Universitas Katolik Weetebula, Sumba, memulai perjalanan besar dalam hidupku—magang di Radio TIRILOLOK Swara Verbum, Kupang.

Sehari sebelum keberangkatan, Bapa, Mama, dan seluruh keluarga menyelimuti saya dengan nasihat dan motivasi yang menguatkan. Pagi berikutnya, dengan langkah berat namun penuh harapan, saya diantar ke Bandara Tambolaka oleh Bapa, Mama, kakak sulung, dan adik bungsu. Ketika kaki ini menjejak tangga pesawat, ragu mulai menyusup ke dalam pikiran, semakin berat saat pesawat lepas landas menuju Bandara El Tari, Kupang.

Pengalaman pertama terbang tak semudah yang dibayangkan. Rasa mual yang menyerang seolah meredupkan semangat. Namun, setiap kali mata ini terpejam, nasihat keluarga terus bergema, menguatkan langkah ini untuk terus maju. Setibanya di Kupang, kelelahan masih terasa, tetapi setelah istirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga menuju tujuan berikutnya.

Perjalanan menuju Radio TIRILOLOK Swara Verbum terasa panjang, terlebih dengan kondisi tubuh yang masih lemah. Tapi, tak terelakkan rasa haru saat bertemu dengan Pater  Dismas  dan para kru radio, menyadari bahwa saya telah tiba di tempat yang sering diceritakan oleh Ibu Angel, tempat di mana pengalaman baru akan menempa dan membentukku.

Hari pertama magang dimulai dengan penuh semangat. Kami tiba di kantor pukul 7.45 WITA, menunggu dosen pembimbing Pak Paulus  Ama Kamuri yang akan menyerahkan kami kepada pihak radio. Di hari pertama ini, kami diperkenalkan dengan lingkungan baru ini—ruang-ruang kerja, orang-orang yang menjadi bagian dari Radio TIRILOLOK, dan tugas-tugas yang akan kami jalani.

Setiap hari di sini adalah petualangan baru. Hari-hari saya jalani dengan semangat. Saya masuk kerja pada pukul 8:00 -16: 00 WITA. Saya jatuh cinta pada suara-suara penyiar berita di studio, suara yang begitu merdu di telinga. Lebih dari itu, saya berkesempatan ikut meliput berita, meski belum diberi kepercayaan untuk mewawancarai, pengalaman ini tetap menjadi pelajaran berharga.

Tantangan terbesar datang ketika saya diminta menulis berita. Awalnya, keraguan menyelimuti, karena ini adalah hal baru bagiku. Tapi, saya tahu ini adalah kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang dalam dunia jurnalistik. Meski tulisan pertama belum sesuai harapan, saya sadar bahwa inilah proses. Kegagalan hari ini bukan akhir, tapi awal dari perjuangan yang lebih besar esok hari. Setiap langkah yang diambil di ibu kota provinsi NTT ini adalah langkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Demikianlah sekelumit kisah awal di Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, setelah beberapa saat  menjauh dari pelukan orang tua, keluarga tercinta, dan para dosen  serta teman-teman di Universitas Katolik Weetebula, Sumba. Di sinilah babak baru dimulai, membawa harapan dan doa yang menyertai setiap langkah dalam merajut cita-cita masa depan.