Setiap tanggal 1 September, umat Kristiani di seluruh dunia diajak untuk berhenti sejenak, merenungkan, dan merayakan karya agung Allah: penciptaan semesta. Hari ini dikenal sebagai Creation Day atau World Day of Prayer for Creation, yang juga disebut sebagai Feast of Creation. Perayaan ini bukan sekadar tambahan dalam kalender liturgi, melainkan sebuah panggilan iman untuk kembali menyadari jati diri kita sebagai ciptaan Allah sekaligus penatalayan bumi yang dipercayakan kepada kita.
Akar Sejarah: Dari Timur ke Barat
Tradisi ini berakar dalam Gereja Ortodoks Timur, yang sejak abad ke-5 menetapkan tanggal 1 September sebagai hari doa syukur atas penciptaan. Inspirasi ini kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan ekumenis, di mana hampir semua denominasi Kristen kini turut merayakannya.
Bagi Gereja Katolik, perayaan ini diinstitusikan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015, bertepatan dengan terbitnya ensiklik Laudato Si’, sebuah dokumen monumental tentang tanggung jawab kita menjaga bumi sebagai rumah bersama. Tahun ini terasa istimewa karena kita menandai 10 tahun Hari Doa Sedunia untuk Penciptaan sekaligus ulang tahun ke-10 Laudato Si’.
Makna Teologis: Misteri Iman Kita
Mengapa “Creation Day” begitu penting? Karena penciptaan adalah fondasi iman Kristen. Kita mengakui Allah Tritunggal sebagai Sang Pencipta: Allah Bapa, “pencipta langit dan bumi”; Kristus Putra, melalui siapa “segala sesuatu dijadikan” (Yoh 1:3); dan Roh Kudus, “Pemberi hidup” yang menghembuskan napas kehidupan ke seluruh ciptaan.
Dengan demikian, Hari Penciptaan bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan untuk kembali ke akar iman kita: bahwa hidup adalah anugerah, dunia adalah karunia, dan manusia dipanggil untuk menjaga serta merawatnya.
Tahun 2025, saat Gereja memperingati 1700 tahun Konsili Nicea, makna Hari Penciptaan semakin mendalam. Ia menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali syahadat iman, yang menegaskan Allah sebagai Pencipta, sekaligus memperbarui komitmen kita terhadap bumi sebagai rumah bersama.
Dengan merayakan Hari Penciptaan, kita belajar bersyukur, bertobat, dan berkomitmen pada tugas suci menjaga karya agung Allah.
Dimensi Pertobatan dan Syukur
Merayakan “Creation Day” juga mengajak kita untuk bertobat. Dunia modern menyaksikan kerusakan lingkungan: perubahan iklim, kebakaran hutan, pencemaran laut, punahnya spesies. Semua ini adalah tanda bahwa manusia sering kali gagal menjalankan tugasnya sebagai penjaga ciptaan.
Hari Penciptaan adalah waktu untuk menyesali dosa ekologi kita, sekaligus memohon rahmat Allah agar bumi dipulihkan. Namun, perayaan ini bukan hanya tangisan duka, melainkan juga nyanyian syukur: terima kasih atas gunung, laut, udara, tanah, dan semua makhluk yang mencerminkan kasih Sang Pencipta.
Perayaan Liturgis dan Spiritualitas Baru
Tahun ini menjadi lebih bermakna dengan adanya anugerah baru dari Paus Leo XIV, yaitu “Misa Penciptaan” (Creation Mass), yang memungkinkan umat Katolik di seluruh dunia merayakan Hari Penciptaan secara liturgis di sekitar altar. Dengan demikian, Hari Penciptaan bukan hanya wacana, tetapi sungguh-sungguh menjadi perayaan iman yang menghidupkan doa, sabda, dan ekaristi.
Selain itu, Hari Penciptaan juga membuka jalan menuju Season of Creation, sebuah masa doa dan aksi yang berlangsung dari 1 September hingga 4 Oktober (Pesta St. Fransiskus dari Asisi). Masa ini mengajak umat untuk memperdalam spiritualitas ekologis, terlibat dalam gerakan pelestarian lingkungan, dan hidup lebih sederhana serta berkelanjutan.
Panggilan untuk Semua
Perayaan ini mengingatkan kita akan identitas sejati: manusia bukanlah pemilik bumi, melainkan penjaga yang diutus Allah. Segala ciptaan adalah saudara, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi. Menjaga bumi bukan tambahan opsional, melainkan bagian hakiki dari iman kita.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ menegaskan, “Krisis ekologi adalah krisis spiritual dan moral.” Maka, Hari Penciptaan menjadi momentum untuk bertobat dari sikap serakah, memperbarui rasa syukur, dan menghidupkan kembali komitmen untuk berjalan selaras dengan kehendak Allah. Dengan merayakan hari ini, kita diingatkan bahwa merawat bumi berarti menghormati Sang Pencipta, dan bahwa kasih kita pada Allah harus nyata dalam kasih pada ciptaan-Nya.
Akhirnya, “Creation Day” bukan sekadar satu tanggal dalam kalender liturgi, tetapi sebuah undangan iman untuk memperbarui cara kita hidup. Hari ini mengingatkan kita bahwa syukur, kepedulian, dan tanggung jawab atas bumi adalah bagian dari panggilan kristiani.
Dengan merayakan Hari Penciptaan, kita menegaskan kembali doa Yesus: “Datanglah Kerajaan-Mu… di bumi seperti di surga”
Hari ini bukan hanya untuk direnungkan, tetapi juga untuk diwujudkan dalam tindakan nyata: merawat lingkungan, mengubah gaya hidup, dan memperlakukan ciptaan sebagai karunia, bukan komoditas. Doa kita harus berbuah dalam aksi, dan aksi kita harus berakar pada iman.
Semoga Feast of Creation membangkitkan semangat baru dalam Gereja dan dunia: semangat untuk menjaga bumi, rumah bersama kita, dengan kasih yang mengalir dari Sang Pencipta.














