Kupang, NTT – Sejarah baru kembali ditorehkan dalam kehidupan Gereja Katolik. Pada Minggu, 7 September 2025, Paus Leo XIV memaklumkan Carlo Acutis, seorang remaja jenius komputer asal Italia, sebagai santo pertama dari generasi milenial. Carlo, yang meninggal di usia 15 tahun karena leukemia, dikenal dengan julukan “God’s Influencer” karena menggunakan teknologi digital untuk mewartakan iman, khususnya lewat dokumentasi mukjizat Ekaristi di dunia.
Bagi Gereja Universal, peristiwa ini merupakan tanda kuat bahwa kekudusan tidak hanya milik imam, biarawan-biarawati, atau tokoh besar dalam sejarah. Kekudusan kini juga berwajah remaja, sederhana, dekat dengan dunia digital, dan sangat akrab dengan kehidupan generasi muda zaman ini.
Lebih dari sekadar peristiwa universal, canonisasi Carlo Acutis memiliki makna istimewa bagi Gereja lokal di NTT dan karya pewartaan melalui Radio TIRILOLOK Swara Verbum Kupang. Carlo, remaja sederhana yang menjadi “God’s Influencer,” mengingatkan bahwa iman dapat dihidupi dan diwartakan secara kreatif melalui media.
Kehidupannya meneguhkan kaum muda NTT untuk memakai teknologi demi Injil, sementara bagi Radio Tirilolok, canonisasi ini menjadi undangan memperbarui semangat sebagai saluran Sabda Allah di era digital.
Santo Baru, Inspirasi Bagi Generasi Muda NTT
Gereja di NTT dikenal sebagai salah satu “jantung iman” di Indonesia. Ribuan kaum muda terlibat dalam kegiatan kategorial, OMK, THS-THM, misdinar, maupun pelayanan sosial. Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan penetrasi digital, banyak kaum muda juga berhadapan dengan tantangan serius: kecanduan media sosial, kurangnya disiplin, serta keterasingan dari realitas iman sehari-hari.
Dalam konteks inilah sosok Santo Carlo Acutis menjadi teladan yang sangat relevan. Carlo adalah remaja biasa yang suka bermain bola, memakai sepatu Nike, dan gemar komputer.
Tetapi, ia mampu menata hidup dengan disiplin rohani: misa harian, doa Rosario, dan adorasi Ekaristi menjadi pusat hidupnya. Ia membatasi bermain game hanya satu jam seminggu, agar waktunya dipersembahkan untuk hal-hal yang lebih bernilai.
Generasi muda NTT, yang dikenal cerdas, kreatif, dan sangat aktif di ruang digital, kini mendapat teladan bahwa media sosial, komputer, dan internet bisa menjadi sarana evangelisasi bukan sekadar hiburan atau candu. Carlo menunjukkan bahwa iman dan teknologi bukan dua dunia yang bertentangan, melainkan bisa bersatu dalam karya kreatif demi kemuliaan Tuhan.
Radio TIRILOLOK: “God’s Influencer” dalam Konteks Lokal
Radio TIRILOLOK Swara Verbum, sebagai media karya Serikat Sabda Allah (SVD) di Kupang, lahir dari semangat pewartaan Injil melalui teknologi komunikasi. Jika Carlo Acutis dikenal sebagai “God’s Influencer” di dunia digital, maka Radio Tirilolok adalah “God’s Influencer” dalam konteks lokal NTT.
Seperti Carlo yang mengarsipkan mukjizat Ekaristi dalam sebuah situs web multibahasa, Radio TIRILOLOK selama puluhan tahun telah mengarsipkan, menyuarakan, dan menghadirkan wajah Gereja ke tengah masyarakat melalui gelombang udara. Dari siaran doa, katekese, lagu rohani, hingga diskusi sosial, radio ini menghidupkan semangat iman di tengah umat.
Canonisasi Carlo Acutis menjadi undangan bagi Radio TIRILOLOK untuk semakin kreatif dan inovatif dalam menggunakan media digital. Jika dulu radio hanya berbasis gelombang, kini Tirilolok sudah masuk ke dunia streaming, media sosial, dan konten digital. Carlo seakan berkata: “Gunakan teknologi untuk Tuhan, jangan biarkan teknologi memperbudakmu.”
Pesan Bagi Kaum Muda dan Keluarga
Canonisasi Carlo juga menyampaikan pesan mendalam bagi keluarga-keluarga Katolik di NTT. Carlo lahir dari keluarga kaya yang awalnya tidak terlalu taat beriman. Namun berkat kesaksian hidupnya, orang tuanya bertobat dan kembali ke Gereja. Hal ini menunjukkan bahwa seorang anak bisa menjadi pewarta Injil bagi orang tuanya sendiri.
Bagi keluarga di NTT, di mana banyak orang tua masih bergumul dengan tantangan ekonomi, migrasi, maupun keterbatasan pendidikan, Carlo menjadi inspirasi bahwa mendampingi anak dalam iman jauh lebih penting daripada hanya mengejar kesuksesan material. Iman yang hidup, doa bersama, dan teladan sederhana dapat melahirkan “santo-santa kecil” di dalam rumah.
Bagi kaum muda NTT, Carlo berkata dengan hidupnya: “Kesucian itu bukan soal usia, tetapi soal orientasi hidup. Jangan buang waktu untuk hal-hal sia-sia. Hidupmu bisa menjadi mahakarya bagi Tuhan.”
Gereja Lokal: Dari Assisi ke Kupang
Assisi, tempat Carlo Acutis dimakamkan, kota yang begitu ia cintai karena menjadi tanah kelahiran Santo Fransiskus. Pada 6 April 2019, jenazahnya dipindahkan dan ditempatkan di Gereja Santa Maria Maggiore, Assisi, sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Sejak saat itu, Assisi menjadi magnet rohani baru. Ribuan, bahkan jutaan peziarah muda dari berbagai belahan dunia datang untuk berdoa, merenung, dan belajar dari kesaksian hidup sederhana Carlo yang kini diakui sebagai teladan kudus bagi generasi digital. Orang muda Katolik di NTT mungkin tidak mudah untuk pergi ke Assisi.
Meski demikian, ziarah sejati tidak hanya terjadi dengan kaki yang melangkah jauh, tetapi juga dengan hati yang terbuka di tempat kita berada. Carlo mengajarkan bahwa kekudusan dapat tumbuh dari keseharian: dari sekolah, pelayanan di paroki, hingga penggunaan teknologi secara bijak.
Carlo memilih Ekaristi sebagai pusat hidupnya. Ia menata waktunya dengan disiplin, membatasi hiburan, dan menggunakan keterampilan digitalnya untuk mempersembahkan karya bagi Gereja. Inilah teladan yang dapat ditiru orang muda NTT. Di tengah derasnya arus media sosial, Carlo mengingatkan: gunakan teknologi bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk memberi inspirasi dan membangun sesama.
Menjadi orang muda Katolik di NTT berarti menghadirkan terang Kristus di kampus, sekolah, komunitas OMK, dan media digital. Belajar dari Carlo, orang muda dipanggil bukan hanya menjadi “pengikut,” tetapi juga “influencer” iman—yang dengan sederhana memberi pengaruh positif bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat. Dengan demikian, meski jauh dari Assisi, semangat Carlo dapat dihidupi di Kupang, Lahurus, Atambua, dan seluruh NTT, menjadikan kaum muda benar-benar berharga bagi Gereja lokal.
Santo Carlo, Doakanlah Kami
Canonisasi Carlo Acutis oleh Paus Leo XIV adalah sejarah baru, bukan hanya bagi Gereja Universal, tetapi juga bagi Gereja lokal NTT. Carlo mengingatkan kita bahwa teknologi adalah anugerah, dan iman dapat menemukan saluran baru dalam dunia digital.
Bagi Radio TIRILOLOK Swara Verbum Kupang, Carlo adalah inspirasi untuk terus menjadi “God’s Influencer” lokal, yang menghubungkan Sabda Allah dengan hati umat lewat teknologi komunikasi.
Maka, dalam semangat Carlo, kita pun berdoa:
“Santo Carlo Acutis, doakanlah kaum muda NTT, doakanlah keluarga-keluarga kami, dan doakanlah Radio Tirilolok, agar tetap setia menjadi suara Sabda Allah di zaman digital ini.”














