NTT Alami Deflasi 0,40 Persen pada Agustus 2026, Harga Pangan Jadi Penekan Utama

Komoditas lainnya yang turut memberikan andil terhadap deflasi antara lain tomat sebesar 0,11 persen dan cabai rawit sebesar 0,09 persen.

Kota Kupang, TIRILOLOKNEWS.COM || REGIONAL – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat perekonomian daerah tersebut mengalami deflasi sebesar 0,40 persen pada Agustus 2026.

Data tersebut disampaikan Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, S.Si., M.Si., dalam konferensi pers perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi NTT yang digelar di Aula Kantor BPS NTT, Selasa (1/9/2026).

Matamira menjelaskan, Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan indikator yang menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Kenaikan IHK menunjukkan terjadinya inflasi, sedangkan penurunan IHK menunjukkan deflasi.

“Pada Agustus 2026 secara provinsi, NTT mengalami deflasi sebesar 0,40 persen,” jelas Matamira dalam konferensi pers tersebut.

Secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026, inflasi tahun kalender NTT tercatat sebesar 1,45 persen. Sementara itu, secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi NTT berada pada level 2,59 persen.

Deflasi bulanan pada Agustus 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada tiga dari 11 kelompok pengeluaran.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar deflasi. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 1,13 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,43 persen.

Kelompok transportasi juga mengalami deflasi sebesar 0,46 persen dan memberikan andil sebesar 0,06 persen.

Sebaliknya, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan menjadi salah satu kelompok yang mengalami kenaikan harga pada Agustus 2026, dengan inflasi sebesar 0,68 persen dan memberikan andil sebesar 0,04 persen terhadap inflasi.

Dari sisi komoditas, sejumlah bahan pangan menjadi penyumbang utama deflasi. Daging ayam ras tercatat mengalami penurunan harga dengan andil deflasi sebesar 0,16 persen, disusul telur ayam ras sebesar 0,12 persen.

Komoditas lainnya yang turut memberikan andil terhadap deflasi antara lain tomat sebesar 0,11 persen dan cabai rawit sebesar 0,09 persen.

Menurut BPS, penurunan harga sejumlah komoditas pangan tersebut berkaitan dengan meningkatnya pasokan dan produksi, sementara pada beberapa komoditas lainnya terjadi penurunan permintaan.

Selain itu, faktor cuaca dan kelancaran distribusi juga turut memengaruhi pergerakan harga komoditas pangan di NTT.

Meski demikian, terdapat sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga dan menahan laju deflasi. Beberapa di antaranya adalah ikan tembang dengan andil inflasi 0,06 persen, ikan kembung 0,04 persen, pelumas atau oli 0,04 persen, serta sejumlah komoditas ikan lainnya.

Inflasi Tahunan NTT 2,59 Persen

Berbeda dengan perkembangan secara bulanan, secara tahunan NTT masih mencatat inflasi sebesar 2,59 persen pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang berada pada level 2,43 persen.

Inflasi tahunan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga pada 10 dari 11 kelompok pengeluaran.

Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi salah satu penyumbang dominan dengan inflasi sebesar 0,87 persen. Berikutnya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,58 persen.

Dari sisi komoditas, perhiasan emas memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni sebesar 0,72 persen. Komoditas pelumas atau oli menjadi penyumbang terbesar kedua dengan andil sebesar 0,17 persen.

Sementara itu, sejumlah komoditas justru menahan laju inflasi tahunan, di antaranya angkutan udara, bahan bakar, serta beberapa komoditas pangan.

Komoditas yang memberikan andil deflasi terhadap inflasi tahunan antara lain bawang merah sebesar 0,01 persen, biaya pendidikan sekolah menengah atas sebesar 0,12 persen, tomat 0,08 persen, daging ayam ras 0,08 persen, dan telur ayam ras 0,05 persen.

BPS NTT menilai perkembangan harga pada Agustus 2026 menunjukkan bahwa dinamika kelompok pangan masih menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan inflasi di daerah tersebut.